Sepucuk Surat untuk Gadis Buta - Surat Cinta yang Merubah Segalanya

Suatu hari, tepat pada tanggal 10 Agustus 2014 terjadilah malapetaka itu. Malapetaka yang membuat dia kehilangan kedua orangtuanya yang sangat dia sayangi. Kedua orangtuanya telah dipanggil sang Khaliq akibat kecelakaan maut tersebut. Untung waktu itu, Tuhan masih memberikan kesempatan yang kedua buat seorang gadis muda yang bernama Siwi Magda Ayu. Namun, kecelakaan itu sudah mampu membuatnya menutup mata atas keindahan dunia. Kecelakaan itu telah membuatnya buta.
Sungguh disayangkan, karena dia adalah salah satu siswi terpandai disekolahnya, di SMAN 1 Jakarta. Kebutaannya itu telah memaksanya untuk mengundurkan diri dari sekolah, karena dia merasa nggak betah jikalau setiap hari harus diejek sama teman – temannya. Tapi, karena didorong keinginan adiknya, Vira. Akhirnya hingga sekarangpun dia masih tetap mau bersekolah.
Sementara itu, jauh dilain pihak, gue pun akhirnya masuk ke sekolah baru gue. Sebagai siswa baru, gue harus cepat – cepat nyari teman. Karena jikalau tidak, gue bakal kebingungan mengejar mapel yang ada disekolah itu.
“ Kenalin, nama gue Muhammad Badrul Umam. Gue pindah kesini karena orangtua gue pindah tugas dikota Jakarta ini. “ Gue memperkenalkan diri.
“ Asal kamu darimana? “ Bu Indah bertanya ke gue.
“ Aku dari Bogor, bu. “ jawab gue.
“ Ya udah. Silahkan duduk sana! “ suruh Bu Indah.
Setelah itu gue duduk dengan Bagos. Karena waktu itu, semua bangku sudah terisi penuh oleh siswa dan siswi lain. Lumayanlah Bagos orangnya itu Sociable sama sepertiku, jadi nggak sulit buat kami untuk berteman.
Ketika jam istirahat tiba, gue dan Bagos segera menuju ke kantin. Waktu luang gini biasanya kami gunakan untuk makan sekenyang – kenyangnya di kantin Bu Lasmi.
Disaat itu, datanglah Siwi yang dirangkul oleh Vivi. Begitu melihat Siwi yang dirangkul oleh Vivi itu, membuat gue penasaran. Mengapa gadis berkacamata itu dirangkul oleh Vivi, padahal dia nggak cacat ataupun sakit.
“ Gos, kau kenal gadis berkacamata itu gak? “
“ Kenal, memangnya kenapa? “
“ Siapa dia? “
“ Dia adalah Siwi Magda Ayu. Dia merupakan siswi terpandai disekolah ini. “
“ Kelas berapa? “
“ Satu angkatan sama kita. Cuman kita kelas XA dia XC. “
“ Memangnya kenapa lo nanya soal dia, Mam!? “
“ Kenapa dia dirangkul oleh Vivi? “
“ Dia itu buta, Mam! “
Begitu mendengar penjelasan dari Bagos kalau dia itu buta, membuat gue merasa iba dan kasihan terhadapnya. Meskipun begitu, gue nggak nyangka kalau dia merupakan siswi terpandai disekolah ini.
Tak lama kemudian, bel masuk itupun berbunyi. Semua siswa segera kembali ke kelas mereka masing – masing. Tapi tidak untuk Siwi dan Vivi. Mereka berdua masih berada diluar kelas karena Vivi masih menunggu Siwi keluar dari toilet.
Pak Idris dan Pak Mahali yang melihat mereka berdua yang belum kembali ke kelas itu merasa wajar. Karena mereka berdua jikalau nggak bersama, akan mengakibatkan permusuhan diantara mereka. Bagaikan seekor lebah dengan bunga, yang masing – masing saling membutuhkan.
Meskipun Vivi selalu dihina dan dicaci maki oleh teman – temannya dikarenakan persahabatannya dengan Siwi, tidak membuat si Vivi itu merasa gentar ataupun mengeluh untuk terus berteman dengan Siwi. Bahkan beberapa bulan yang lalu, dia dikeluarkan oleh Niken, ketua cheerleader dari kelompoknya. Meskipun begitu, dia nggak merasa menyesal atas keputusan Niken tadi. Hal itu malah membuatnya semakin bersemangat untuk terus berteman dengan Siwi. Kasihan banget mereka berdua itu.
Setelah bel pulang berbunyi, ketika gue lagi menunggu jemputan dari orangtua gue, gue melihat Siwi dan Vivi yang lagi berdiam diri di gerbang sekolah. Kesempatan itu gak gue sia – siakan untuk berkenalan dengan mereka. Maklumlah, gue ini kan murid baru, jadi boleh donk jikalau gue nyari teman sebanyak – banyaknya disekolah baru gue.
“ Hi, kenalan donk! “ gue menyapa ke mereka berdua.
“ S.. siapa itu, Vi? “ Tanya Siwi ke Vivi.
“ Gak tau gue. Murid baru kale! “ jawab Vivi.
“ Lo itu siapa? Murid baru yah?! “ Tanya Vivi.
“ Iya. Namaku Umam. Gue baru pindah pagi ini. “ jawab gue.
“ Namaku Vivi, dan teman gue yang satu ini namanya adalah Siwi! “ jawab Vivi.
Waktu bersalaman dengan mereka, gue sedikit mau tertawa, karena waktu gue mengulurkan tangan gue, eh Siwi nya malah mengulurkan tangannya kebelakang. Maklum aja kale, karena dia buta, jadi dia nggak bisa ngelihat.
“ Emang lo nggak takut yah kalau lo mau berteman dengan kita? “ Tanya Vivi tiba – tiba.
“ (kaget) Lho, memangnya kenapa!? “ Tanya gue.
“ (berbisik) Lo nggak takut yah, sama Niken and the genk! “ jawab Vivi.
“ (meremehkan) Takut? Buat apa?! Kita kan cuman berteman doank! “ kata gue.
“ Semenjak gue temenan sama Siwi, Niken, ketua dari kelompok cheerleader menganggap gue sebagai penghianat yang mempermalukan kelompok gue. Jadi, Niken ngumumin jikalau siapapun yang berteman dengan Siwi, maka mereka akan dikerjain untuk seterusnya! “ jawab Vivi lirih.
“ Oh gitu. Kalau cuman gitu aja, gue nggak kan takut! “ sahut gue.
“ Lo serius soal ini, Mam!? Lo bakal punya musuh dari separoh sekolah ini loh. “ kata Vivi.
“ Nggak, gue nggak kan takut. “ jawab gue.
Tak lama kemudian, supir gue yang bernama Pak Handoko itupun datang.
“ Lho, Bukannya mama yang jemput gue. Kenapa malah Pak Handoko yang jemput sih? “ Tanya gue ke Pak Handoko.
“ Maaf, den. Ibu aden lagi mengunjungi temannya yang sakit, jadi nyonya nyuruh bapak buat jemput aden. “ jawab Pak Handoko.
“ Lha gimana soal ayah gue, bukankah nanti dia minta dijemput? “ Tanya gue lagi.
“ Ayah aden hari ini lagi lembur. Mungkin besok pagi pulangnya! “ jawab Pak Handoko.
“ Oh ya, kalian berdua rumahnya mana? “ Tanya gue.
“ Gak jauh ko’. Rumah kami berdua berdeketan ko’. “ jawab Siwi.
“ Komplek B no.4 dan no.5 yang deket sama supermarket Adijaya! “ lanjut Vivi.
“ Hm, gimana kalau kalian berdua ikut kami? Rumah kita searah ko’. “ kata gue.
“ Gak usah. Nanti ngrepotin kamu! “ jawab Siwi.
“ Ayolah! Gue kepengen ngobrol dengan kalian didalam mobil. “ rayu gue.
Setelah gue rayu mereka, akhirnya mereka pun mau kuantar. Didalam mobil, gue ngobrol bersama mereka berdua. Ternyata mereka berdua orangnya asyik juga. Nggak bosen deh gue ngenal mereka.
Berbulan – bulan gue ngenal mereka. Akhirnya gue mulai menyukai si Siwi itu. Iya sih, kalau dia itu buta. Tapi, dikarenakan kebutaannya itu, dia nggak kan mau memandang seseorang dari segi fisiknya. Dia merupakan siswi yang paling beda diantara siswi – siswi lainnya. Dia dibalik kekurangannya tersebut, dia masih bisa tersenyum manis walaupun didalam hatinya terdapat luka yang pedih.
Ketika gue ulang tahun ke 18, pada tanggal 19 Oktober 2014, diapun rela datang ke pesta ulang tahun gue. Dia bersama Vivi tentunya. Waktu itu, semua teman – teman gue ngasih hadiah yang cuman bernilai material. Seperti HP, Laptop, dsb. Tetapi, lain dengan Siwi, dia ngasih gue sebuah jam arloji juga sebuah headshet.
Banyak teman – teman gue yang ngetawain dia soal itu. Tetapi, gue tetep aja setia untuk melindunginya. “ Meski hadiah lo sederhana, gue bakal terima ko’ hadiah darimu. “ kataku menghibur Siwi yang down. “ Hadiah tidaklah penting, my friend. Yang terpenting ialah keikhlasannya dalam berbagi! “ lanjut gue.
Gue pengen sekali jikalau Siwi itu bisa melihat lagi. Melihat akan indahnya dunia, nggak seperti sekarang ini, apapun yang dihadapannya pasti gelap gulita.
Pernah suatu ketika, gue berunding dengan seluruh keluarga gue buat biayain ngoperasi mata Siwi. Hal itu tidak serta merta diterima oleh keluarga gue. “ Nak, operasi mata itu memerlukan biaya yang teramat mahal. Lagipula, hari ini mana ada yang mau mendonorkan matanya buat Siwi. “ kata kedua orangtua gue. “ Paman dan Orangtuamu nggak keberatan soal biayanya, keponakanku. Paman Cuma keberatan soal pendonornya! “ lanjut kedua pamanku.
Kata – kata kedua orangtuaku juga pamanku itu membuat gue sedikit berfikir. “ Siapa yah yang mau mendonorkan matanya buat si Siwi? “ batin gue waktu itu.
Keesokan paginya, ketika gue lagi walking – walking, gue lihat Siwi yang mau pergi ke supermarket bersama adiknya, Vira. Tanpa menunggu – nunggu lagi, gue samperin tuh dia.
“ Siwi..! “ sapa gue.
“ Umam? “ balas Siwi.
“ Iya. “ jawab gue.
“ (menoleh) Oh, jadi ini yah pria yang sering kau sebut – sebut itu, kak!? “ kata Vira.
“ (tersipu malu) I..iya. “ jawab Siwi.
“ Mau kemana kau,Wi? “ Tanya gue padanya.
“ Oh, gue cuman mau ke supermarket pagi ini. “ jawab Siwi.
“ Kalau kau, kak!? “ sahut Vira.
“ Hm. Gue nggak mau kemana – mana ko’, gue cuman lagi jalan – jalan aja! “ jawab gue.
“ Ya udah kalau gitu. Gue mau jalan – jalan dulu. Kalian hati – hati yah! “ lanjut gue.
Setelah itu gue ngelanjutin walking – walking gue hingga perbatasan komplek. “ Wi, apa kau juga mencintaiku? “ tiba – tiba gue terselip kata – kata gila itu. “ Apa – apaan sih. Ko’ gue jadi ngomong seperti itu? “
Dilain pihak, ketika Siwi keluar dari supermarket, tak disangka – sangka dia ketemu sama Niken, dan kedua temannya, Astrid dan Mela.
Seperti biasa, pertemuan diantara mereka menimbulkan kejengkelan kelompok Niken and the genk. Cek cok diantara mereka nggak bisa dihindarkan.
“ (mengejek) Aduuuh. Lo lagi.. lo lagi!! “ kata Niken sambil buang muka.
“ Niken? Apa itu lo?! “ balas Siwi.
“ Iya, kak. Dia adalah Niken, Astrid juga Mela. “ sahut Vira.
“ Iya, gue Niken. Memangnya kenapa!? Lo ada masalah ma gue?!! “ kata Niken dengan muka benci.
“ Ken, bisakah kita baikan. Gue dah capek lo musuhin gue seperti ini! “ kata Siwi.
“ (kaget) Apa!? Lo ngajak baikan?? Emangnya lo tuh kesambet setan apa sih!? “ jawab Niken dengan muka benci.
“ Gadis buta seperti lo, yang tiap hari harus meminta belas kasihan dari orang lain, mau ngajak gue baikan? Nggak ngimpi loh!! “ lanjut Niken dengan muka benci.
“ Haha..” kedua teman Niken itupun tertawa.
“ Kak Niken, cukup yah! Jangan ejek kakakku seperti itu!! “ tegas Vira.
“ Heh, Vira! Siapa juga yang mau ngejek kakak buta lo itu. Nggak level juga kale..” balas Niken dengan muka benci.
“ Ayo guys, kita tinggalin aja gadis buta dengan adiknya yang songong itu! “ lanjut Niken.
Dan akhirnya mereka bertiga itupun pergi. Disaat itu, gue akhirnya datang kembali. Sesampainya disana, gue cuman ngelihat Siwi yang terlihat sangat down. Mungkin ini karena ejekan dari Niken and the genk tadi.
Mumpung hari ini minggu, gue putusin untuk datang bersilaturahmi kerumah Siwi. Ternyata Siwi dan adiknya itu hidup sendiri disana, orangtua, saudara, paman, dan kakeknya sudah lama meninggal dunia. Sungguh kasihan mereka itu.
Mereka berdua dapat bertahan hidup karena mereka berdua mendapat warisan dari orangtuanya, juga selain itu, mereka mendirikan sebuah toko sederhana dari harta warisan tersebut.
Ketika Siwi lagi didapur untuk menyiapkan hidangan buat gue, gue nanya – nanya soal Siwi kepada adiknya itu.
“ Heh, Vira. Kakakmu Siwi itu seperti apa sih orangnya kalau dia sedang dirumah itu!? “ Tanya gue.
“ Hm. Dia orangnya baik, kak. Ya walaupun dia itu pendiam dan nggak banyak ngomong dengan orang – orang, tapi dia adalah kakak best of the best gue, kak. “ jawab Vira.
“ Ya, walaupun dia buta, tapi dia masih bisa melakukan hal yang dilakukan orang yang tidak buta seperti kita, kak. “ lanjut Vira.
“ Buktinya, dia masih bisa menyediakan makanan buat kakak. Bukankah dia hebat, kak Umam?! “ kata Vira yang terus – terusan memuji kakaknya itu.
“ (keinget) Oh ya, tadi kulihat setelah pergi ke supermarket, kakak lo terlihat down. Ada apa sih?! “ Tanya gue.
“ Ini karena Niken, kak. “ jawab Vira lusuh.
“ (kaget) Niken? Memangnya kenapa, Vir?! “ Tanya gue yang mulai penasaran.
“ Ketika kakak belum datang tadi, gue dan kak Siwi diejek habis – habisan oleh kak Niken. Dia mengejek kami dengan ejekan gadis buta yang selalu meminta belas kasihan orang lain. “ ungkap Vira kepadaku.
“ Kurang ngajar tuh mereka. “ kata gue yang mulai kesal.
“ Lihat aja mereka besok. Gue habisin mereka!! “ batin gue sudah bagaikan gunung yang mau meletus.
“ Ngomong – ngomong, apa sih hubungannya kakakmu dengan Niken? “ Tanya gue.
“ Maaf, kak. Gue nggak bisa cerita soal itu. Karena gue dah janji ke kak Siwi untuk tidak membongkar hubungan diantara mereka berdua. Mungkin suatu saat nanti, kak Siwi mau cerita! “ jawab Vira.
Akhirnya ketika kami berdua lagi asyik ngobrol, Siwi itupun akhirnya muncul dari dapur sambil membawa roti dan minuman teh. Yummy, nikmat :D
“ (memuji) Wi, kue buatan lo enak. Bisakah lo ngajarin gue buat kue kayak gini? “ kata gue.
“ K.. kau suka? Maksutku kau suka buat kue juga!? “ Tanya Siwi.
“ Tentu saja. Memangnya kue siapa yang dihidangkan di ultah gue! “ jawab gue.
“ Maaf, kak. Gue mau nunggu toko dulu! “ kata Vira sambil cabut.
“ Oh ya, Wi. Orangtua lo mana!? “ Tanya gue.
“ (terlihat down) Ortu gue.. mereka sudah meninggal beberapa bulan lalu. “ jawab Siwi.
“ (kaget) M.. maaf sudah menanyakan soal itu. Gue harap lo nggak tersinggung! “ ucap gue sorry.
“ Gak papa ko’. Lagipula, gue dah ngikhlasin mereka..! “ jawab Siwi.
“ Mam, jikalau gue bisa ngelihat lagi. Lo adalah orang pertama yang pengen gue lihat. Gimana lo, wajah lo, dan senyum lo. Gue pengen ngelihat semua itu ketika gue nanti kalau sudah bisa ngelihat. “ lanjut Siwi tiba – tiba.
“ Benarkah itu, Wi? “ Tanya gue.
“ Benar. G.. gue suka ma lo, Mam! “ ungkap Siwi.
“ Sama. Gue juga suka dan sayang ma lo! “ balas gue.
Benar – benar kasihan tuh Siwi. Setelah kepergian kedua orangtuanya, dia harus terus berjuang mengais rezeki untuk menghidupi dirinya juga adiknya. “ Wi, penderitaan lo apa harus separah ini. “
Malam harinya, gue sibuk sendiri. Sibuk mikirin betapa menderitanya kehidupan Siwi itu. Sudah ditinggal kedua orangtuanya, dia juga harus berjuang menghidupi adiknya, meski dia itu buta. “ Wi, gue janji. Gue pasti bakalan ngelindungin lo. Gue bakalan jadi malaikat pelindung lo, semoga lo bisa ngerti gue! “
Setelah itu, hubungan gue dengan Siwi semakin baik lagi. Apalagi gue dah pacaran sama dia. Kemanapun Siwi ada, pasti disitu juga ada gue.
Siwi itu suka puisi, pantun, cerpen, dan novel. Jadi, setiap kali gue ngedate sama dia, pasti gue bakal bacain sepatah dua patah puisi ataupun bacain novel gue ke dia. Ternyata dia merupakan salah satu fans novel gue. Bahkan, ketika gue ngomong kalau gue ini adalah penulis novel Jodohku diatas Surga itu, dia langsung tersentak kagum ke gue.
Sebenarnya sih gue kepengen ngerahasiain rahasia ini ke teman – teman baru gue, karena jikalau mereka semua tau, pasti akan sama seperti di sekolah lama gue, gue bakalan dikerumuni para fans – fans novel itu.
“ Say, Shela itu siapa sih!? “ Tanya Siwi tiba – tiba.
“ (kaget) Lho, ko’ sayang nanya dia. Memangnya kenapa sayang kepengen tau soal dia!? “ jawab gue.
“ Nggak ada apa – apa ko’. Cuman gue penasaran aja. Kenapa disetiap novel lo, selalu ada yang bernama Shela!? “ kata Siwi.
“ (mengaku) Shela itu adalah pacar gue, Wi. Dia sudah meninggal dua bulan sebelum gue pindah ke sekolah lo. “ jawab gue sedih.
“ (kaget) Astaga. Maaf sudah menanyakan soal itu, Sayang! “ jawab Siwi.
Keesokan harinya, seperti biasa gue datang kesekolah paling awal. Suasana sepi dan sunyi itupun mendera gue. Sedikit takut sih, tapi sudahlah, gue kan sudah biasa datang ke sekolah jam sepagi ini.
Tak lama setelah itu, Bagos itu datang..
“ (kaget) Lo dah datang, Mam!? “ sapa Bagos.
“ Udah donk. Mang kayak lo! Setiap hari datangnya siang – siang mulu “ balas gue.
“ (jengkel) apa – apaan sih lo itu..” jawab Bagos.
Disaat itu, gue ngelihat Siwi dan Vivi datang ke sekolah. Tak diduga pula, Niken and the genk itupun juga dah pada datang. “ Kesempatan baik nih, kesempatan buat balas perbuatan Niken ke Siwi selama ini..”
Setelah itu, gue langsung segera menuju ketempat Niken berada. Disana, gue labrak habis – habisan mereka bertiga itu. Biar kapok.
“ (geram) Kalian, gue punya urusan sama kalian bertiga! “ kata gue.
“ Apa – apaan sih lo itu, Mam!? “ ucap Niken.
“ Lo bertiga ini kan, yang ngejek Siwi kemaren pagi? “ Tanya gue.
“ (bertanya – Tanya) Ngejek? Ngejek buat apa coba!? “ jawab Niken.
“ Kalian kan yang ngejek dia dengan kata ‘ gadis buta yang selalu meminta belas kasihan kepada orang lain ‘ jawab!! “ bentak gue.
“ (mengaku) Oh itu yah, memang benar kalau gue ngejek dia. Apa urusanmu? “ jawab Niken.
“ Dah deh, lo jangan kebanyakan bacot, Mam. Atau lo bakal menyesal telah berurusan dengan kami. “ ancam Astrid dan Mela.
“ Hmph. Emangnya gue takut sama ancaman lo bertiga? Nggak kale! “ jawab gue.
“ Jangan sok jadi pahlawan, Umam! Kata – kata lo tadi sudah memicu perang diantara kita. “ ancam Niken.
“ Jikalau gue lihat kalian lagi ngganggu Siwi, gue bakalan buat perhitungan sama lo bertiga. Camkan itu..!! “ bentak gue.
Setelah itu, gue kembali masuk ke kelas. Sesampainya disana, Bagos itupun langsung ngomong “ gawat… gawat!! “ entah apa maksutnya. Tapi, setelah gue Tanya, dia mengatakan kalau gue ini dah mengajak perang dengan Niken and the genk.
Oalah, gue aja biasa – biasa aja ko’. Masa Bagos jadi seperti itu, lebay banget.
“ (khawatir) Gawat.. gawat!!! “ ucap Bagos.
“ Kenapa sih lo itu, Gos. Dari tadi lo ngomongnya gawat.. gawat melulu!? “ Tanya gue.
“ (khawatir) Lo.. lo itu dah ngajak perang sama Niken and the genk. Ini gawat.. benar – benar gawat!!! “ jawab Bagos yang terlihat ketakutan itu.
“ Oh, gitu. “ jawab gue santai.
“ Lo itu yah, gue ingetin malah lo nyantai – nyantai aja. Lo itu ngajak perang sama Niken, ketua dari tim cheerleader disekolah ini tau. Lo nanti bisa mati!! “ tegas Bagos.
“ Emangnya gue takut sama ancaman dia? Nggak kale. Kalau mereka melawan, gue bakalan balas mereka satu per satu. “ jawab gue percaya diri.
“ Lo itu nggak kenal sama Niken, jadi gimana lo bisa setenang ini ketika lo nantang perang Niken itu..” jawab Bagos.
“ (panik) Demi keselamatan lo, gue saranin untuk cepat pindah sekolah. “ kata Bagos yang memberikan saran nggak masuk akal.
“ Sebenarnya Niken itu siapa sih? Ko’ kalian seisi sekolah ini takut padanya..?! “ Tanya gue yang ingin menguak rahasia sekolah ini.
“ (panik) N.. Niken itu..! “ jawab Bagos yang terpotong atas kedatangan Niken ke kelas gue.
“ (geram) Heh, sok cengir..! “ sapa Niken kepadaku dengan muka benci.
“ Lari…!! “ Bagos itupun kabur. Dasar pengecut.
“ Lo mau apa dari gue kali ini? “ Tanya gue yang terlihat tenang – tenang aja.
“ Lo emangnya nggak tau siapa gue?? Anak mana sih lo itu!! “ bentak Niken.
Dan tepat disaat itu, Astrid dan Mela mengguyurkan air dari belakang gue. Lo basah ya? Yah tentu saja basah donk. Diguyur masa nggak basah sih.
“ (tertawa histeris) Haha.. rasain tuh! Emang enak!! “ kata Niken dengan muka benci.
“ Apa yang lo bertiga lakuin ke gue??!! “ bentak gue geram.
“ (tertawa) Itu sebagai balasan tadi, sok cengir..!! “ jawab Niken.
“ Umam bodoh.. Umam jelek.. huuu!! “ ejek Astrid dan Mela.
“ Ingat, sok cengir.. setelah ini akan ada perlakuan gue yang lebih keras dari ini. Lo cuman bisa menghentikannya dengan mencium sepatu gue ini! “ kata Niken.
“ (tertawa) Hahaha… “ Astrid dan Mela tertawa.
“ (meludah dihadapan mereka) Cuih. Nggak bakalan gue nyium sepatu kotor lo. Najis!! “ jawab gue yang sudah mulai kehilangan kesabaran.
“ Lihat aja nanti, sok cengir..!! “ ancam Niken. Dan akhirnya mereka bertiga pergi.
Ternyata gue baru saja menyadari kalau Niken and the genk itu perilakunya seperti itu. “ Bah, ternyata Niken itu orangnya seperti itu. Pantesan nggak ada orang yang berani sama dia. “ kata gue menggerutu. “ Gue jadi penasaran tentang apa yang akan dilakukan Niken setelah ini ke gue? “ lanjut gue.
Setelah itu, gue langsung pergi ke toilet untuk mengganti pakaian gue yang basah setelah diguyur air oleh anak buahnya Niken. Heeh, gue gemes ama tuh orang. Rasanya gue pengen bungkam mulut tuh cewek.
Sementara itu, ketika Siwi, Vivi, dan Rihanna lagi makan dikantin, Niken and the genk turn up. Mereka bertiga langsung buat ulah lagi. Kali ini, tidak kepadaku, tapi langsung kepada Siwi. Mereka geram karena menuduh Siwi lah yang mengadukan mereka ke gue. Padahal sebenarnya nggak, tapi Vira lah yang mengadukannya ke gue.
“ Heh, gadis buta!! “ sapa Niken yang sudah geram itu.
“ S.. suara siapa itu, Vi? “ Tanya Siwi ke Vivi.
“ Mereka itu.. “ sahut Rihanna.
“ Siapa mereka itu, Na? “ Tanya Siwi lagi.
“ Mereka adalah Niken and the genk. “ jawab Vivi.
“ A.. ada urusan apa lo sama Siwi!? “ Tanya Rihanna penuh curiga.
“ Gue nggak punya urusan sama lo berdua. Gue cuman punya urusan sama gadis buta itu! “ jawab Niken.
“ Apa..? “ Tanya Siwi.
“ Gadis buta, lo kan yang nyuruh Sok Cengir itu buat ngelabrak gue? Ngaku!! “ jawab Niken kesal.
“ (bingung) Sok Cengir? Sok Cengir siapa maksutmu?! “ Tanya Siwi.
“ Dah deh, jangan banyak Tanya..! “ sahut Mela.
“ Siapa lagi kalau pria yang sok care ke kamu lah. Umam!! “ lanjut Niken.
“ (kaget) U.. Umam!? “ ucap Siwi.
“ Iyalah. Mana ada orang yang sok care ke lo selain dia..! “ jawab Astrid.
“ (mendekat ke Siwi) Rasain nih, Sause dan Kecap..!! “ Niken menumpahkan Saus dan Kecap itu dibajunya Siwi.
“ (marah) Ken, lo jangan kurang ngajar sama Siwi!! “ bela Rihanna dan Vivi.
“ (mengelak) Eit, jangan macem – macem lo berdua dengan gue. Kalian tau kan konsekuensinya..!! “ jawab Niken mengelak.
“ Ayo guys, kita cabut! “ Niken and the genk itupun akhirnya cabut juga.
Setelah Niken dan kedua temannya itu pergi, Siwi itupun nggak kuasa menahan tangisnya. Ia ngggak nyangka kalau baju yang dicuci oleh adiknya itu dengan bersih, bisa kotor jadi seperti ini. Jikalau saja Siwi bisa ngelihat, pasti dia bakalan lebih sedih lagi. “ (menangis) Baju.. baju gue.. kotor? Iyakan! “ ucap Siwi. “ (menangis) Ya Tuhan, kenapa Niken harus terus – terus membenciku, walaupun gue dah nggak bisa ngelihat lagi. “ lanjut Siwi.
Memang Niken itu yah.. Sukanya lihat orang menderita aja. Sebenarnya Niken tuh dulunya adalah siswi yang baik hati. Dia mudah sekali akrab dengan siswa siswi yang lainnya. Bahkan, dulu ia pernah sahabatan dengan Siwi.
Permusuhan diantara mereka dimulai ketika hari itu..Ketika Niken hendak melaksanakan pesta hari ulang tahun yang ke-18. Disaat itu, jauh sebelum acara ultah itu dimulai.
“ Hi, Wi. Nanti lo bakal datang kan diacara ultah gue malam ini? “ Tanya Niken ramah.
“ Tentu. Tentu aja donk! “ jawab Siwi.
Ingat teman – teman, waktu itu, Siwi belum lah buta. Dan kedua orangtuanya masih hidup. Sementara itu, gue masih pacaran sama Shela Agrista.
“ (penasaran) Malam nanti, lo mau bawa hadiah apa buat gue!? “ Tanya Niken nggak sabar.
“ Hm, apa yah? Kasih tau gak yah!? “ jawab Siwi sambil bergurau.
“ (membujuk) Ayolah, kasih tahu donk..! “ pancing Niken.
“ Ah nggak. Pokoknya hadiah lo dari gue nanti, adalah hadiah yang paling berkesan buat lo seumur hidup lo. “ jawab Siwi.
“ Oh ya. Okedeh. Pokoknya lo harus datang malam nanti. “ kata Niken.
“ G..Gue janji ko’. “ jawab Siwi.
Tepat pada acara ultahnya Niken, Niken dah ngumumin ke teman – temannya kalau sahabat terbaiknya bakalan ngasih hadiah yang super duper kejutan. Kejutan yang nggak kan bisa dilupakan olehnya.
Tapi setelah menunggu dua jam lebih, Siwi nggak kunjung datang juga. Padahal semua teman – temannya sudah hadir, termasuk Rihanna dan Vivi. Meskipun begitu Niken tetap setia menunggunya.
Tepat pukul 23:00, acara ultahnya Niken itupun berakhir. Dan semua teman – temannya dah pada pulang. Disana, Niken hanya termenung sendiri menunggu sahabat terbaiknya itu tak kunjung – kunjung datang jua.
Mulai hari itu, Niken dah menganggap Siwi bukan temannya lagi. Bahkan dia sudah bersumpah untuk nggak mau berteman lagi dengan siapapun yang bernama Siwi itu.
Ketika jam menunjukkan pukul 23:35, terdengar bel mobil berbunyi. Ternyata itu dari Siwi yang datang menghadiri pesta ultah Niken. Dan dengan berat hatipun, Siwi itu memberanikan dirinya untuk menuju rumah Niken yang megah. Dan tentu saja kalau Niken itupun langsung datang menghampirinya, dan tiba – tiba…
“ (Plak..) …” Niken itupun menampar Siwi dua kali.
“ (menangis) Gue.. Gue dah nungguin lo dari tadi. Kenapa lo ngehianatin gue kayak gini, Wi? Kenapa!? “ Tanya Niken.
“ (menyesal) M.. maaf, Ken. G..gue tadi ketiduran! “ jawab Siwi.
“ (menangis) Padahal.. Padahal gue tadi sudah ngumumin ke teman – teman kalau lo bakalan ngasih gue hadiah yang super duper keren. Mana.. Mana buktinya? Mana janji lo itu, Wi?!! “ ucap Niken.
“ (memberikan hadiahnya) Ini, Ken. Ini hadiah dari gue.. Selamat ulang tahun! “ kata Siwi murung.
Setelah dibuka, hadiah itu adalah sebuah buku diary, yang didalamnya sudah ada kalimat ‘ Buku Diary Niken, sahabat terbaik gue ‘. Tapi karena kesalnya, Niken itupun akhirnya menyobek – sobek hadiah dari Siwi tadi, dan melemparnya kemuka Siwi.
“ (menghapus air matanya) Sudah terlambat, Wi. Ini sudah bukan hari ultah gue lagi. “ kata Niken marah.
“ Sebaiknya lo segera pergi dari rumah gue, atau gue bakal panggil satpam gue buat ngusir kamu!! Pergi..!!! “ lanjut Niken yang benar – benar sudah marah besar.
“ Ken, tolong maafin gue..! “ pinta Siwi sebelum pulang.
“ Nggak. Gue nggak kan maafin lo. Gue dah bener – bener kecewa ma lo, Wi!! “ jawab Niken marah.
“ Pokoknya mulai detik ini, persahabatan diantara kita putus!! “ lanjut Niken yang sudah marah besar terhadap Siwi.
Mulai dari malam itulah, Niken dengan Siwi jadi musuhan. Mereka berdua nggak lagi sedekat dulu. Bahkan Niken itu dah nganggap Siwi sebagai musuh besarnya. Ya walaupun mereka berdua tau kalau didalam hati kecilnya itu, mereka masih kepengen sahabatan lagi.
Let’s go back to story, My friends. Disaat Siwi lagi meratapi penderitaannya selama ini yang dilakukan oleh sahabat terbaiknya sendiri. Kasihan banget tuh Siwi :’(
Disaat gue dah kembali dari toilet guna ganti pakaian, tiba – tiba Rihanna dan Vivi itu nglabrak gue. Gue nggak tau apa salah gue sehingga gue dilabrak habis – habisan oleh mereka berdua.
“ (manggil dengan nada kasar) Mam, kesini lo. Cepat!!! “ kata Vivi.
“ Vivi, Rihanna? Ada apa yah?! “ Tanya gue.
“ (geram) Lo kan yang nglabrak Niken tadi? Ngaku!! “ jawab Rihanna.
“ Iya, memangnya kenapa yah? “ Tanya gue.
Eh belum sempat mereka menjawab, bel masuk itupun berbunyi. Jadi, nggak jadi deh gue tau akan alasan mereka berdua nglabrak gue.
Didalam kelas, gue terus – terusan bertanya – tanya, apa yang hendak mereka berdua ceritakan ke gue. “ Apa yang sebenarnya ingin mereka katakan ke gue, sehingga mereka nglabrak gue seperti itu. “.
Disaat itu pula, datanglah Pak Rozi yang terlihat kebingungan. Sepertinya dia sedang mencari sesuatu, tapi entahlah apa yang hendak ia cari.
“ Pagi, anak – anak! “ sapa Pak Rozi.
“ Pagi, pak! “ jawab kami semua.
“ (mengacungkan tangan) Pak, kenapa bapak terlihat kebingungan seperti itu!? Ada apa yah, kalau boleh tau? “ tanya gue.
“ (terlihat panik) S.. Siwi, dia kabur dari sekolah! “ jawab Pak Rozi.
“ (kaget) Astaga. Benarkah itu, pak? “ tanya gue tiba – tiba.
“ Iya. Kami semua dah mencarinya kemana – mana, tapi nggak ketemu juga! “ jawab Pak Rozi.
Setelah mendengar penjelasan dari Pak Rozi, tanpa mengatakan kata – kata apapun, gue langsung berlari keluar kelas dan segera mencari kemana Siwi berada. Tindakan gue waktu itu, langsung diikuti oleh teman – teman gue, termasuk Bagos, dan Andika.
Nggak ada siapapun yang berhasil menemukannya. Hal itu semakin membuat teman – temannya khawatir, karena Siwi itu buta. Bagaimana kalau dia kenapa – napa. “ Wi, sebenarnya apa yang terjadi padamu, sehingga lo jadi berbuat seperti ini?! “ pikir gue.
Disaat itu juga, gue langsung menelpon adiknya yang masih bersekolah di SMPN 2 Jaya. Saat gue nelpon dia, pertama – tama dia belum percaya. “ Vir, kakakmu kabur dari sekolah..! “ kata gue panik. “ Ah, kakak jangan bercanda. Nggak lucu tau! “ jawab Vira nggak percaya. Tapi, setelah dijelaskan oleh Pak Lukman, kepala sekolah di SMAN 1 Jakarta, dia akhirnya percaya jua.
Setelah menunggu dua puluh menit, akhirnya Vira itupun sampai disekolah kami. “ (panik) Bagaimana, kak? Apa kak Siwi sudah ketemu!? “ tanya Vira. Dengan berat hati, gue itupun njawab, “ Maaf,Vir. Kakakmu hingga saat ini belum ketemu jua! “ jawab gue.
Disaat itu pula, Rihanna dan Vivi itupun menghampiri gue sambil ngomel. Mungkin ini soal yang tadi, soal yang coba mereka jelasin ke gue sebelum bel masuk berbunyi.
“ (geram) Mam, ini semua pasti karena lo..!! “ kata Rihanna dan Vivi.
“ G..gue!? “ tanya gue.
“ Iya. Jikalau lo tadi nggak nglabrak Niken, pasti kejadiannya nggak kayak gini!! “ jawab Vivi.
“ Apa hubungannya dengan itu? “ tanya gue kembali.
“ Tadi, setelah lo labrak Niken, Niken and the genk itupun langsung nglabrak Siwi. Niken nuduh Siwi kalau dialah yang ngaduin Niken ke lo. “ jawab Rihanna.
“ Kak, jadi lo..jadi lo nglabrak Niken yah!? “ sahut Vira.
“ Iya. Gue cuman kepengen Niken nggak ganggu kakak lo aja ko’. “ jawab gue.
“ (kaget) Astaga. Jadi, kakak berani nglabrak dia..!! “ kata Vira.
“ (geram) Mam, lo nggak tau sikapnya Niken. Jikalau Niken dilabrak oleh seseorang yang care banget sama Siwi, maka dia akan berusaha guna menyakiti Siwi lebih parah lagi!! “ jawab Vivi.
“ M..Maaf. Gue nggak tau soal itu! “ jawab gue.
“ (kesal) Bodoh banget sih lo..!! “ kata Rihanna ngejek.
“ Sudah.. sudah. Pertengkaran diantara kalian nggak kan membuat Siwi ketemu. “ sahut Vira.
“ Sebaiknya kita segera cari kak Siwi, pasti dia ada disuatu tempat sekarang ini! “ lanjut Vira.
Akhirnya kami berempat segera mencari Siwi ketempat yang biasa dia datangi. Seperti taman, supermarket, dsb. Tapi, kami berempat nggak menemukannya.
Dua minggu itupun berlalu, dengan tanpa mengetahui keberadaan Siwi sekarang ini. Mulai dari hari menghilangnya, persahabatan antara gue dengan adik maupun temannya Siwi itupun memburuk.
Hingga beberapa hari kemudian, gue mendapat sebuah informasi keberadaan Siwi itu dari seseorang yang bernama Pak Agus.
Gue sangat mengenal pak Agus itu. Karena dia adalah ayahnya Almh. Shela, pacar gue. Setelah mendengar keberadaan Siwi, tanpa menunggu lagi, gue langsung datang kerumah pak Agus. Sesampainya disana, kudapati Siwi yang lagi duduk termenung. Setelah kuamati, dia sudah tidak buta lagi, tapi dia akhirnya bisa ngelihat lagi. Syukurlah, pujiku.
Tak beberapa lama kemudian, Pak Agus itupun menghampiri gue, “ Oh, Umam. Lo akhirnya datang juga! “ sapa Pak Agus. Benar – benar gila tuh Pak Agus, datang – datang nggak ada suara maupun baunya. “ Eh, Pak Agus.. “ jawab gue. “ Sudah dari tadi yah? “ Tanya Pak Agus. “ Nggak. Gue baru datang… “ jawab gue singkat.
Melihat gue yang terus meratapi Siwi dari kejauhan, membuat Pak Agus itu tersenyum. Entah apa maksut dari senyumannya tersebut, tapi mungkin it’s funny one.
“ Mengapa bapak senyum – senyum gitu!? “ kata gue memergoki.
“ (kaget) Eh, nggak kenapa – napa ko’. Cuman kelepasan aja! “ jawab Pak Agus.
“ (keinget) Oh ya, gimana bapak bisa ketemu sama Siwi? “ Tanya gue langsung ketopik.
“ Dua minggu lalu, ketika siang hari, waktu itu hujan lebat. Gue nemuin dia lagi duduk dihalaman kota. Kepalanya terluka, jadi bapak ajak aja dia ke rumah bapak. “ jawab Pak Agus.
Sudahlah teman – teman, kita langsung aja mengamati cerita itu. Beginilah cerita itu..
Dua minggu lalu, seperti dikatakan oleh Pak Agus, ketika dia bertemu dengan Siwi..
Tik..tik..tikk..dress (suara gemircik hujan)
“ Hm, hujan nih.. gue harus segera pulang! “ pikir Pak Agus.
“ Siapa tuh, ko’ hujan – hujan gini, dia tetap duduk termenung.. “ lanjut Pak Agus.
Dan akhirnya Pak Agus itupun langsung menghampiri Siwi.
“ Halo, nak. Kenapa kau masih disini, bukannya berteduh?! “ Tanya Pak Agus.
“ Lho, ko’ nggak njawab. Ada apa, non!? “ lanjut Pak Agus.
Dan disaat itupula, Pak Agus tau kalau dia itu pingsan. Dan tanpa menunggu – nunggu lagi, Pak Agus langsung menggendongnya keatas mobil dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Tak lama kemudian,  datanglah William, mantan Shela. Dia langsung menyuruh untuk Pak Sutrisno yang merupakan dokter spesialis mata untuk mengoperasi kedua mata Siwi. Dan dengan izin Pak Agus, Siwi itupun akhirnya dioperasi dengan menggunakan mata Almh. Shela sebagai pendonornya.
“ Hm. Gimana Dok? “ Tanya William.
“ Alhamdulillah. Operasinya berhasil! “ jawab Dokter Sutrisno.
“ Besok pagi – pagi, kalian berdua boleh datang kesini untuk menjenguknya. “ lanjut Dokter Sutrisno. Dan bersamaan dengan itu, Dokter Sutrisno itupun pergi.
“ Syukurlah. “ puji Pak Agus.
“ Pak Agus, siapa sebenarnya gadis itu!? “ Tanya William.
“ Nggak tau. Gue nemuin dia pingsan di halaman kota tadi siang. “ jawab Pak Agus.
Keesokan harinya, tanpa menunggu – nunggu lagi, Pak Agus datang kerumah sakit bersama dengan istrinya, Bu Farah dan William.
“ Bagaimana, non!? Apa kau sudah bisa ngelihat? “ Tanya Pak Agus.
“ (bingung) Siapa kalian ini? “ jawab Siwi.
“ Kami ini adalah orang yang menyelamatkanmu kemaren siang. “ jawab Pak Agus.
Bersamaan dengan itu, ketika Siwi melihat rupa William, dia menganggapnya sebagai gue, Umam. Karena seperti diketahui, kalau gue dengan William itu memiliki sifat dan pesona yang sama. Ya walaupun lebih gantengan dia.
“ Mata gue.. mata gue bisa ngelihat lagi..! “ kata Siwi gembira.
“ Syukurlah. “
“ (langsung meluk William) Umam, lo pasti Umam kan..? Terima kasih atas pertolongan lo selama ini ke gue! “
“ (kaget) Umam? “ ucap Pak Agus.
Begitulah ceritanya.. cerita dari Pak Agus kepada gue. “ Itulah mengapa gue manggil lo, Mam. Karena bapak kira, Umam yang dicarinya, adalah lo itu..! “ kata Pak Agus. Gue nggak nyangka kalau selama ini, William itu berbohong ke Siwi kalau dia ini adalah Umam. Gue kepengen nghajar dia waktu itu jua, tapi demi kebaikan Siwi, gue ngurungin keinginan gue itu. “ Siwi, apa lo nggak tau yang mana gue itu..? “ batin gue.
Setelah itu, gue langsung menghampiri Siwi. Sesampainya disana, gue langsung ngajak ngobrol dia. Setelah gue ngajak ngobrol dia, betapa terkejutnya gue, dia nggak tau siapa gue. Meskipun begitu, gue masih aja nggak ngaku kalau gue ini adalah Umam, pacarnya.
Meski Siwi nggak kenal gue, tapi dia masih aja enak untuk diajak ngobrol. Kami menghabiskan ngobrol ini selama tiga jam lebih. “ Oh ya, dari tadi, kita belum sempat kenalan. Nama gue Siwi, kalau lo..!? “ kata Siwi. Benar – benar terluka hati gue waktu itu. Tapi, gue nggak mau nunjukin rasa sedih gue dihadapan senyum manisnya itu. “ (berbohong) G.. gue William. “ jawab gue.
Setelah itu, gue dipanggil lagi sama Pak Agus. “ Mam, apa lo tau sekarang keluarganya ada dimana? “ Tanya Pak Agus. “ Keluarganya sudah lama meninggal dunia. “ jawab gue singkat. “ Astaga. Kasihan banget dia itu. “ ucap Pak Agus kaget. “ Tapi, sekarang ini dia masih memiliki adik, namanya adalah Vira! “ jawab gue. “ Hm. Kalau begitu, sebaiknya lo susul adiknya sekarang! Biar nanti dia kujadikan anak angkat gue juga. “ kata Pak Agus ramah. “ Siap, pak! “ jawab gue.
Benar – benar baik Pak Agus itu. Dia sukarela mau menjadikan Siwi dan Vira sebagai anak angkatnya. Maklumlah, Almh. Shela itu merupakan anak satu – satunya, jadi ketika dia meninggal, Pak Agus sudah nggak punya puteri lagi. Jadi, untuk menggantikan puterinya yang meninggal, dia dengan sukarela mengangkat Siwi dan Vira sebagai anak angkatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar