Apakah kalian percaya dengan yang namanya cinta?
Jika tidak, maka kalian memang sama sepertiku, disaat aku hanya hidup seorang
diri, tanpa memperdulikan kata aneh yang disebut dengan cinta. It’s okay,
jikalau kalian semua tidak memandang cinta itu apa maupun cinta yang seperti
apa. Tetapi, jikalau kalian menemukan seseorang yang benar-benar membuat kamu
care banget sama dia, waspadalah! Mungkin cinta itu sudah menyerang diri anda.
Roma, 20 April 2018, ....
Kota Roma sangat indah waktu itu. Langit yang
mulai memancarkan pesona bulan dan bintang-bintangnya itu. Ditambah dikelilingi
beberapa fenomena indah yang disajikan oleh masyarakat Roma sendiri. Kota kuno
itu menawarkan sejuta pesona yang mampu menarik seseorang untuk datang,
walaupun mereka berbeda negara.
“Roma, kota yang cukup indah!” gumam Rieda sambil
menikmati paronama kota kuno tersebut. Kekasihnya yang berada disampingnya itu
hanya bisa tersenyum pasi, terasa seperti ada sebuah masalah yang membebaninya
saat itu. “Kalau tidak indah, mana mungkin banyak orang yang rela terbang
mengarungi samudra hanya untuk datang ke sini?” Rieda cuman menoleh ke
kanan,”Kau benar..!”
Pria itu
masih tetap tersenyum pasi melihat Rieda yang begitu bahagia saat itu. Dia
sepertinya teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh dokter Sutrisno
beberapa tahun lalu, disaat mereka berdua masih SMA.
“Nak..! kekasihmu, Rieda itu. Dia mengidap kangker
otak stadium 4. Mungkin dia hanya akan mampu bertahan beberapa tahun lagi. Saya
selaku dokter utama disini berharap kalau kau bisa membahagiakan hidupnya untuk
beberapa tahun kedepan..!”
Sambil berkeringan dingin, pria itu memberanikan
diri untuk bertanya kepada dokter itu,”Sampai berapa lama dia hidup, dok?!
Sampai kapan dia bisa bertahan..??”
“Entahlah, dokter juga tidak tahu! Namun sudah
dapat dipastikan kalau beberapa tahun lagi, dia pasti..!”
Kata-kata dokter Sutrisno itupun langsung
terpotong ketika melihat Rieda itu sudah siuman. Umam begitu bersyukur melihat
kekasihnya itu sudah siuman. Untung saja dia tidak mendengar omongan antara
Umam dengan dokter Sutrisno. Kalau tidak, mungkin saat ini pastinya dia sudah
sangat sedih dan putus asa. Karena Rieda itu adalah seorang gadis yang terkenal
mudah sedih dan putus asa.
“Rieda, kau sudah bangun?!”
“Umam, dimana aku?”
“Tenanglah, saat ini kau berada dirumah sakit.
Tadi kau itu pingsan saat kau melihat aku bertanding sepak bola. Apa yang kau
rasakan saat itu, Say?”
Rieda mencoba mengingat-ingat saat-saat ia belum
pingsan tadi, namun pikirannya blank. Dia terus paksakan untuk mengingat, maka
kepalanya terasa sakit, sakit sekali,”Eehm... sakit..! sakiiit...!!”
“Ada apa Rieda?” tanya Umam terkejut.
“Hentikan dia, Mam! Jangan sampai dia terus
mencoba mengingat peristiwa yang telah lalu.” Dokter Sutrisno langsung beranjak
dari tempat duduknya dan langsung menyuntik bius kembali Rieda. Dengan begitu,
Rieda itupun kembali tertidur dengan pulas.
“Syukurlah..!” kata dokter Sutrisno lega.
“Dok, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa setiap
dia mencoba untuk mengingat masa lalunya, kepalanya itu terasa sakit?!”
“Itulah bukti dari penyakit yang di derita oleh
Rieda saat ini, Mam! Jadi, bapak berharap supaya kau jangan sampai membiarkan
dia untuk mencoba mengingat masa lalunya. Karena itu terlalu berbahaya buat
penyakitnya, dan itu akan mempercepat penyebaran kangker di otaknya.”
Umam terdiam seribu bahasa saat itu. Dia merasa
kalau dirinya ketakutan apabila dia kehilangan Rieda saat itu. Oleh karena itu,
mulai dari hari itu, dia bersumpah untuk tidak membiarkan Rieda seorang diri dan
tidak membiarkan Rieda untuk mencoba mengingat apapun yang terjadi pada masa
lalunya. Meskipun dia harus rela kalau suatu saat nanti, Rieda akan kehilangan
memori kebersamaan dengannya.
Keesokan harinya,....
Blitar, 12 Mei 2015, ....
Keesokan harinya Rieda sudah diijinkan untuk
pulang. Kedua orangtua Ferida M Wulandari yang lebih akrab dipanggil Rieda itu
harap-harap cemas, menanti kedatangan puterinya itu ke rumah. Mereka berharap
kalau tidak ada yang gawat mengenai penyakit Rieda yang sering terjadi dari
saat dia berusia 10 tahun itu.
Rieda itupun keluar dari mobil Umam, dan langsung
menghampiri kedua orangtuanya,”Pagi... Ma! Pa...!” kedua orangtuanya dengan
berlinang air mata itupun langsung menghampiri Rieda yang baru turun dari
mobil, “Pagi, puteriku..! apa kau baik-baik saja?!” tanya Bu Sandra, ibunya
Rieda. “Tenanglah, Rieda nggak kenapa-napa kok,” katanya.”Rieda cuman pingsan
aja. Jadi dokter menyuruh aku untuk banyak beristirahat..!”
“Iya, kok. Rieda saat ini baik-baik saja!” kata
Umam yang seolah berbicara tanpa ekspresi apapun. Rieda yang tidak mengetahui
maksud apapun dari ucapan Umam yang tanpa ekspresi itu hanya bisa tersenyum,
dan kemudian dia bergegas untuk masuk ke rumah.
“Apakah benar kalau Rieda itu baik-baik saja,
Umam?” tanya Pak Idris.
“..........!” Umam masih tetap terdiam, hanya
sesekali memancarkan senyuman tanpa ekspresi kepada Rieda yang sudah sampai di
pintu.
Tes... test.. testtt...!
Air mata Umam itupun langsung terjatuh. Dia
langsung memeluk ayahnya Rieda, dan bilang.”Maafkan saya, pak! Sebenarnya...
Rieda itu mengidap penyakit kangker otak stadium 4. Dan nyawanya hanya bisa
bertahan beberapa tahun lagi,” kedua orangtua Rieda langsung terdiam terpaku.
“Kata dokter, sudah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan penyakitnya
itu. Hanya keajaiban yang akan mampu untuk menolongnya.”
“Apa.. apa yang kau katakan itu? Bukankah dia
baik-baik saja tadi!?” kata Bu Sandra terpaku mendengar penjelasan dari Umam
tadi. Bahkan matanya itupun melongo.
Sambil mengusap air matanya, Umam itupun
mengulangi kata-katanya tadi. “Rieda.. terkena penyakit kangker otak stadium 4.
Dia hanya bisa hidup sampai beberapa tahun lagi!” Bu Sandra langsung menarik
kerah baju Umam, “Beraninya.. beraninya kau mengatakan kalau umur Rieda tidak
panjang lagi. Dia adalah puteri kami yang mempunyai banyak impian yang belum
bisa dia wujudkan! Dia takkan mudah menyerah begitu saja kepada penyakitnya
itu..!!”
Umam terdiam. Dia tahu kalau Bu Sandra itu begitu
perduli kepada Rieda. Oleh karena itu, Umam itupun berusaha untuk meneguhkan
hatinya juga hati kedua orangtua Rieda untuk tetap tegar menghadapi peristiwa
yang akan terjadi beberapa tahun lagi. Peristiwa yang menyangkut puteri mereka,
Rieda.
“Saya janji, saya akan berusaha membuat Rieda
bahagia. Dan saya juga berjanji kalau saya akan berusaha menjadi sebuah
keajaiban demi kesembuhan dia saat ini!” kata Umam bersungguh-sungguh. Bahkan
matanya itu memancar tajam, seolah dia tidak main-main dalam sumpahnya itu.
“Tolonglah, Umam..! Lindungilah Rieda...!!” gumam
Pak Idris sambil mencium tangan Umam. Dia yang melihat kedua orangtua Rieda
sampai seperti itu, dia hanya berkata,”Berdirilah, Pak..! saya ini bukanlah
Tuhan. Namun saya juga tidak akan membiarkan terjadi apa-apa kepadanya, karena
saya sangat sayang sekali padanya...!”
Malam harinya, di kamar, Rieda menelepon Umam
untuk datang kesana. Dia kepengen mengajak kekasihnya itu untuk melihat
bintang-bintang malam ini. “Halo.. Say! Apakah kau bisa kemari?”
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku ingin pergi melihat bintang malam ini. Aku
ingin kita menghabiskan waktu malam ini berduaan saja!”
“Tapi, bukankah besok kita masih harus masuk
sekolah?”
“Iya. Namun bintang malam ini terlihat indah.
Jadi, aku ingin melihat pemandangan indah ini bersama kamu saja. Aku sudah
bicara sama orangtuaku kok!”
“Mereka mengizinkan..?”
“Iya..”
Saat kedua orangtua Rieda pergi, Umam itupun
datang kerumahnya. Dia menyuruh Rieda untuk bersiap. Begitu melihatnya,
pandangan Umam tidak bisa teralih dari Rieda terus. “Kau begitu cantik dan
mempesona hari ini..!” pipi Rieda langsung memerah saat mendengar pujian dari
Umam,”Ah, terima kasih..!”
“Dimana kedua orangtua kamu?!”
“Oh, mereka. Mereka berdua sedang menghadiri acara
peresmian perusahaan milik papa.”
“Lalu, Vena..?”
“Dia ikut sama mereka. Udah ah, ayo berangkat..!”
Mereka berdua masuk mobil. Dan segera pergi menuju
ke sebuah bukit yang letaknya tidak jauh dari alun-alun kota Blitar. Dalam
perjalanan, Umam merasa heran. Mengapa disaat kondisi Rieda seperti ini, kedua
orangtuanya malah mengizinkan dia untuk pergi. Padahal udara malam itu sangat
tidak sehat buat dirinya.
Karena di mobil Rieda diam-diam saja, Umam itupun
langsung mengajaknya mengobrol,”Say, kenapa kau mau melihat bintang sih malam
ini? Kan besok kita harus berangkat ke sekolah!” Rieda hanya menoleh, tanpa
mengatakan apapun. Umam berusaha mengajaknya mengobrol, namun dengan kata-kata
yang berbeda.”Kamu kenapa kok diam pasi seperti itu?” Rieda hanya tersenyum
tipis dan kemudian tertawa lirih, “Nggak. Gue cuman heran dengan kamu, Mam!”
Umam mengerutkan kening,”Heran? Heran kenapa!?”
“Enggak. Nggak kenapa-napa kok, cuman lucu aja!”
“Lo ngeledekin gue yah?”
“You’re betcha.”
Tak beberapa lama kemudian mereka sampai disebuah
bukit, yang letaknya tidak terlalu jauh dari alun-alun kota.
Hari-hari itu tidak akan pernah bisa kulupakan.
Hari dimana aku melihat bintang-bintang dengan Umam. Aku benar-benar bahagia
saat kutahu kalau aku dengannya ternyata mempunyai sebuah hobi yang sama. Aku
ingin tetap seperti ini, untuk selama-lamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar