Curse of Death
Astrid Incarnation
Dahulu
kala disekolah yang elit seperti sekolah SMKN 1 Kesamben, Blitar. Ada sebuah
kisah yang terjadi sekitar 22 tahun yang lalu, yaitu sekitar April 1993. Kisah
itu sudah banyak diketahui oleh para siswa pada era itu, namun untuk sekarang,
cerita itu mulai disembunyikan oleh para guru dan kepala sekolah guna menjaga
nama baik sekolah.
Dulu,
kisahnya ada seorang siswi yang sangat berbakat disana, siswi itu dengan mudah
masuk kesekolah itu, tanpa biaya sepeserpun. Yah, kalian tahu kalau ditahun
itu, hal itu merupakan sesuatu yang sangat jarang, berbeda dengan jaman
sekarang ini, yang bisa dengan mudahnya masuk kesekolah elit, hanya dengan
bermodalkan uang yang banyak.
Oke,
let’s go back to stories. Selain gadis itu cerdas, diapun juga mempunyai paras
yang cantik. Sehingga, dengan mudahnya iapun menaklukkan siswa – siswa lainnya.
Siswi itu bernama Astrid Siswandi. Namun dibalik kecerdasan dan kecantikannya,
membuat Astrid terkenal sebagai seorang siswi yang terkenal sombong dan angkuh.
Dia tidakkan tahan melihat ada orang yang lebih baik darinya, oleh sebab itu,
diapun selalu dan selalu membully siapapun yang lebih baik darinya dalam segala
hal. Bahkan, setiap korban bulliannya itu, semua tewas ia habisi dengan
tangannya sendiri.
“Ampun
Trid.. Ampun!” kata Ruri itu memohon.
“Ha?
Kau minta ampun padaku, he? Bukankah gue sudah sering katakan padamu untuk
tidak menyaingiku dalam ajang lomba cerdas cermat itu, he? Lalu kenapa kau
masih berani untuk mengalahkanku dalam ajang itu?” tanya Astrid sinis.
“Maaf,
Trid.. maaf!” sahut Ruri.
Tanpa
belas kasihan sedikitpun yang terpancar dari muka Astrid, diapun langsung
menghabisi Ruri itu dengan kapak yang ia pegang. Dan tanpa menghiraukan mayat
Ruri yang sudah mulai membiru, diapun langsung cabut dari toilet, tempat ia
menghabisi Ruri.
Para
guru yang melihat Astrid keluar dari pintu toilet, hanya bisa bergetar
ketakutan. Sebenarnya mereka tahu kalau Astrid telah menghabisi Ruri, namun
mereka semua tidak ada yang berani untuk melaporkannya ke polisi. Karena mereka
semua takut kalau nasib mereka akan sama seperti Ruri.
“Ada
apa, kenapa kalian melihat – lihatku seperti itu? Apa kalian kepengen gue
habisi juga, sama seperti Ruri itu, he!?” ancam Astrid sungguh – sungguh.
Mereka
langsung lari terbirit – birit mendengar ancaman dari Astrid itu. Mereka semua
benar – benar seorang yang pengecut, mereka bahkan tidak berani untuk melakukan
sesuatupun untuk menghentikan perbuatan Astrid yang sudah benar – benar
keterlaluan itu.
Sebulan..
dua bulan.. tiga bulan kemudian, korban dari Astrid ini kian bertambah banyak.
Termasuk para teman – teman baik Astrid itu sendiri. Melihat kekacauan ini,
para keluarga korban itupun mengadu kepada pihak sekolah untuk mengakhiri
masalah besar ini. Karena permintaan mereka tidak segera dilaksanakan, maka
para keluarga korban itu, menyewa lima orang preman yang merupakan jagoan
dikampung mereka. Mereka berlima mendapat perintah untuk menghabisi Astrid saat
itu juga.
“Pihak
sekolah hingga saat ini belum ada yang menanggapi permintaan kami untuk
melaporkan Astrid itu ke polisi. Sedangkan para korban – korban yang dibunuh
oleh gadis psychopath itu sudah terlalu banyak. Oleh karena itu, aku menyewa
kalian berlima ini untuk menghabisi nyawa Astrid saat ini juga. Dan jangan
sampai kalian ketahuan oleh siapapun. Mengerti?” kata Pak Rohmat, ayahnya Ruri.
“Baik,
kami mengerti. Asalkan bayaran kami itu setara dengan tugas yang kalian beri,”
sahut Ujang.
“Tentu
saja, Jang. Jikalau kalian berhasil menghabisi Astrid, maka aku akan menambah
bonus yang besar buat kalian berlima!” jawab Pak Rudi, ayahnya Sinta.
“Baiklah,
sekarang kami mohon pamit!” kata Hendro.
Mereka
itupun akhirnya cabut dari kediaman Pak Rohmat. Mereka berlima kepengen untuk
menghabisi nyawa Astrid malam itu juga. Sebenarnya mereka mau melakukan hal ini
tanpa bayaran sepeserpun, karena Ujang dan Hendro itu memiliki dendam pribadi
dengan Astrid, yang telah menghabisi nyawa Irvan dan Tanto, kedua anak mereka.
Sementara
mereka berlima lagi menuju kesekolah, Astrid dan adiknya, Mela lagi mengerjakan
tugas skripsi sampai larut malam. Meskipun Astrid sangat ganas terhadap siswa
dan siswi lainnya, iapun tak mau melakukan apapun, bahkan melukai adiknya
itupun ia nggak mau. Karena sepeninggal orangtuanya, Astrid telah berjanji
untuk merawat dan menjaga adiknya itu.
“Mel,
kenapa kau nggak pulang? Nanti Mak Ijah khawatir padamu, aku tidak mau mendapat
masalah lagi dengan Mak Ijah karenamu, mengerti?” ujar Astrid.
“Tapi,
gimana soal kakak? Aku tidak mau meninggalkan kakak seorang diri disini,
apalagi sudah gelap kaya’ gini!” jawab Mela.
“Ya
udah, kalau kau mau menunggu kakak, sini duduklah bersama kakak!” ajak Astrid
manis.
Beberapa
menit kemudian, ketika Mela hendak pergi ketoilet, suara pintu kelas Astrid
itupun terbuka. Betapa terkejutnya Astrid melihat kelima orang itu yang sudah
membawa pisau dan parang.
“Apa
kau yang namanya Astrid, he?” tanya Reto garang.
Tanpa
mengurangi ketenangannya, Astrid itupun menjawab,
“Iya,
gue adalah Astrid. Kenapa memang, he?” jawab Astrid.
“Kami
diperintahkan oleh keluarga siswa – siswi yang pernah kau bunuh untuk
menghabisimu disini, dan sekarang juga!” kata Ujang garang.
“Sebenarnya
kami berlima tidak mau melakukannya, mengingat kalau Mela dan Mak Ijah selalu
berbuat baik kepada kami semua. Namun karena kau telah membunuh Irvan dan
Tanto, jadi dengan berat hati, kami juga akan membunuhmu!” sambung Pak Hendro.
Tak
sampai lima menit, mereka berlima itu berhasil menghabisi nyawa Astrid. Sebelum
itu, setelah mereka berlima beramai – ramai menusuk perut Astrid dengan pisau
dan parang, mereka berlima itupun pergi.
Disaat
itu, Mela yang sudah kembali dari toilet kaget melihat kakaknya itu sudah
sekarat, bersimbah dengan darah segar.
“Kakak..
apa yang terjadi padamu, kak? Kenapa kau jadi seperti ini, he!?” tanya Mela
benar – benar cemas kala itu.
“M..
Mela, k.. kakak dilukai oleh orang yang menuntut balas pada kakak. M.. mereka
semua kepengen balas dendam ke kakak karena kakak telah menghabisi nyawa anak –
anak mereka semua, hehe..!” jawab Astrid sekarat.
“Apa
yang kakak bilang, he? Mereka membalas dendam ke kakak!?” tanya Mela bingung.
“Kakak
dulu, pernah menghabisi nyawa anak – anak mereka. Karena kakak tidak ingin
kalau prestasi dan kecantikan kakak disaingi oleh anak – anak mereka. Jadi
kakak habisi mereka semua tanpa sisa, sudah sepantasnya jikalau mereka
membalaskan dendam pada kakak!” jawab Astrid sekarat.
“Tidak,
kak. Mela tidak akan membiarkan kakak jadi bulanan mereka. Meskipun kakak merelakan
akan hal ini, namun aku akan tetap membalaskan dendam kakak,” sahut Mela.
“Jangan
Mela.. jangan!” paksa Astrid sekarat.
Sebelum
Astrid melanjutkan kata – katanya, diapun sudah tewas duluan. Setelah kematian
kakaknya, Mela itupun akhirnya berubah. Berubah menjadi seorang pribadi yang
kejam dan dingin hatinya. Kegelapan telah merasukinya, sehingga yang ia pikir
hanyalah dendam dan dendam.
“Tunggu
saja, kak. Aku akan pastikan kalau dendam kakak kepada orang – orang itu akan
aku balaskan satu demi satu, supaya kakak bisa tenang dialam sana,” ujar Mela
sinis.
“Mereka
semua takkan pernah bisa lolos dari dendamku dan dendam kakakku..!” imbuhnya.
22
tahun kemudian, akhirnya sekolah itupun berhasil melupakan terror yang pernah
terjadi disekolah itu. Bertepatan dengan ini, awal dari ajaran baru itupun
dimulai.
Banyak
sekali siswa – siswi baru yang antusias untuk mendaftar disekolah elit itu.
Diantara mereka ada seorang siswi yang anggun, dan cantik, dia bernama Anggun
Vivi Rubiyanti, dari keluarga Anggun.
“Vi,
ternyata elu juga daftar disekolah ini juga yah?” tanya Niken, sahabat baiknya.
“Iyalah.
Aku mendaftar disekolah ini, karena aku menyukai suasana sekolah ini yang benar
– benar sejuk. Ditambah lagi, karena Shela dan Dewi juga mendaftar disini, jadi
gue ngikut aja!” jawab Vivi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar